Home / Berita POLRI / Langkah Sejuk Srikandi Lingsar: Dari Panggung SDN 1 Saribaye hingga Rangkul Dua Remaja yang ‘Hilang’ Direction

Langkah Sejuk Srikandi Lingsar: Dari Panggung SDN 1 Saribaye hingga Rangkul Dua Remaja yang ‘Hilang’ Direction

LCN – Lombok Barat, – Pendekatan represif tampaknya mulai ditinggalkan dalam menangani isu kenakalan remaja dan anak. Dibawah kepemimpinan AKP Wiwin Widarti, Polsek Lingsar menunjukkan sisi humanis kepolisian lewat aksi nyata: merangkul anak sekolah dari ancaman bullying sekaligus merajut kembali komunikasi keluarga yang retak.

Langkah ini terlihat jelas dalam dua agenda intensif yang digelar dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Berdiri dihadapan puluhan siswa SDN 1 Saribaye, Sabtu (25/07/2026), AKP Wiwin Widarti membawa pesan tegas namun hangat. Didampingi Kepala Desa Saribaye Abdurrahman dan Kepala Sekolah Bq. Sahruniwati, Kapolsek Lingsar ini membongkar mitos lazim dikalangan anak-anak terkait perundungan.

“Bullying bukan sekadar candaan. Tindakan menghina, mengejek, mengucilkan, mempermalukan dan menyebarkan konten yang merendahkan teman bisa meninggalkan luka yang sangat dalam,”tegas AKP Wiwin didepan para siswa.

Tak sekadar melarang, ia juga membakar keberanian para murid agar tidak lagi menjadi penonton pasif saat melihat rekannya disakiti.

“Jika menjadi korban, jangan diam. Ceritakan kepada orang tua, guru dan kepolisian. Jika melihat teman dirundung, jangan ikut menonton apalagi merekam untuk disebarkan. Jadilah teman yang berani membantu dan melindungi,”tambahnya seraya mengajak seluruh warga sekolah membangun iklim yang saling menghargai.

Sehari sebelumnya, Jumat (24/07/2026) malam sekira pukul 20.00 WITA, pendekatan penuh kasih ini lebih dulu diuji. Mapolsek Lingsar kedatangan dua remaja, FA asal Desa Mekarsari dan I asal Kelurahan Pagutan, yang sempat membuat panik keluarga karena nekat pergi dari rumah.

Kedua remaja tersebut sebelumnya mendatangi Yayasan Peduli Anak di Desa Langko. Mengingat usia mereka yang masih dijenjang remaja, pihak yayasan berkoordinasi dengan Polsek Lingsar untuk penanganan terbaik.

Bukan dengan gertakan, AKP Wiwin memimpin langsung proses mediasi dengan duduk bersama menggali akar masalah. Terungkap aksi nekat kedua remaja tersebut dipicu oleh komunikasi keluarga yang tersumbat.

“Setiap persoalan yang melibatkan anak dan remaja perlu ditangani dengan hati-hati. Kami mengedepankan dialog, pendampingan dan perlindungan terhadap hak anak agar solusi terbaik bisa tercapai tanpa mengabaikan aturan hukum,”ungkapnya.

Dalam suasana mediasi yang menyejukkan, kepolisian tetap memberikan pemahaman hukum profesional, termasuk opsi penanganan via Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram jika diperlukan. Namun, penekanan utama malam itu tetaplah pada pemulihan hubungan keluarga.

Diakhir penanganan, AKP Wiwin menyisipkan pesan mendalam bagi para orang tua diwilayah hukumnya. Ia mengingatkan pengawasan terbaik tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari keterbukaan.

“Kehangatan dalam keluarga, perhatian orang tua dan komunikasi yang baik menjadi benteng utama, agar anak tidak mudah mengambil keputusan yang dapat merugikan dirinya sendiri,”pungkasnya.

Lewat kombinasi edukasi pencegahan disekolah dan mediasi berhati dingin di Mapolsek, Polsek Lingsar tak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom sejati bagi tumbuh kembang generasi muda Lombok Barat,”tutupnya.

 

(Orik / 002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *