LCN – Lombok Utara, — Gemuruh sorak penonton dan tabuhan gamelan pengiring bergaung memenuhi Lapangan Tantya Sudhirajati Polres Lombok Utara Polda NTB, Sabtu sore (08/08/2026). Arena markas kepolisian yang biasanya kental dengan suasana formal, mendadak “membara” oleh adu ketangkasan para pepadu (petarung) dalam gelaran Seni Budaya Tradisional Peresean.
Dihelat selama dua hari penuh (8–9 Agustus 2026), pagelaran budaya ini menjadi sorotan utama masyarakat Dayan Gunung. Tak sekadar perayaan untuk menyemarakkan HUT Kabupaten Lombok Utara (KLU) ke-18 sekaligus menyongsong HUT Kemerdekaan RI ke-81, ajang ini menjelma jadi simbol soliditas tanpa sekat antara kepolisian, pemerintah daerah, tokoh adat dan warga.
Kemeriahan pecah saat laga pembuka digelar secara simbolis. Tanpa canggung, Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K., dan Wakil Bupati KLU Kusmalahadi Syamsuri, S.T., M.T., turun langsung ke tengah arena memegang penjalin (rotan) dan ende (perisai). Aksi penuh keakraban ini disambut tepuk tangan riuh ribuan pasang mata yang memadati lokasi.
Sebelum pertarungan dimulai, suasana lebih dulu disihir oleh keindahan Tari Gandrung yang memukau, disusul dengan penyerahan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang berkontribusi menjaga kelestarian budaya lokal.
Dalam sambutannya, Bupati KLU Dr. H. Najmul Akhyar, S.H., M.H., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Polres Lombok Utara yang merangkul warisan leluhur sebagai media pemersatu.
“Kegiatan Peresean ini adalah tradisi turun-temurun di Lombok Utara. Semoga kita bisa bersama-sama memetik hikmah positifnya, baik dari segi ketangkasan fisik maupun nilai silaturahminya yang sangat erat,”ungkap Bupati Najmul.
Disisi lain, Kapolres Lombok Utara Polda NTB, AKBP Agus Purwanta menegaskan bahwa Peresean dimata kepolisian bukan sekadar adu fisik, melainkan cermin dari filosofi hidup masyarakat Sasak yang menjunjung tinggi sportivitas dan pengendalian diri.
“Peresean adalah warisan budaya yang sarat nilai keberanian, persaudaraan, dan saling menghormati. Kami merasa bangga dapat membuka pintu Lapangan Tantya Sudhirajati sebagai ruang kebersamaan masyarakat. Ini bukti nyata bahwa Polri hadir tidak hanya untuk menjaga kamtibmas, tetapi juga berdiri digarda depan mendukung pemajuan seni dan budaya daerah,”tegas Kapolres.
Pesta rakyat ini kian berbobot dengan hadirnya deretan pimpinan daerah dan pemangku adat legendaris. Tampak hadir Sekda KLU Sahabudin, Ketua Bhayangkari Lotara Ny. Heny Agus Purwanta, Danramil Gangga, Kasat Intel AKP Mutawalli, S.T., M.M., Kabid Kebudayaan Dikbudpora KLU Raden Sawinggih, para Kepala Desa se-KLU, serta jajaran Ketua Lang-Lang Adat Bayan.
Melalui dentupan rotan dan tameng kulit sapi selama dua hari penyelenggaraan, Polres Lombok Utara berhasil membuktikan bahwa pelestarian tradisi dan penjagaan keamanan masyarakat bisa berjalan seiring, menciptakan harmoni yang memperkuat identitas Lombok Utara diusianya yang ke-18,”pungkasnya.
(Orik / 002)






