LCN – Mataram, – NTB, Ketahanan pangan tidak sekadar berkaitan dengan ketersediaan beras dipasar. Dibalik sepiring nasi terdapat peran petani, lahan pertanian, ketersediaan air, pupuk, harga hasil panen, hingga keberlanjutan generasi penerus. Pesan tersebut mengemuka dalam siaran langsung RRI Pro 1 Mataram bertajuk “Makan Siang Bareng Teman Sejati – Pangan Kuat, Masyarakat Tangguh, Indonesia Berdaulat”, bersama Komandan Kodim (Dandim) 1606/Mataram Kolonel Inf Nyarman, M.Tr.(Han), Rabu siang (12/08/2026).
Dalam dialog tersebut, Dandim 1606/Mataram menegaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar yang memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan ekonomi, sosial, hingga stabilitas nasional. Menurutnya, apabila ketersediaan pangan terganggu, dampaknya dapat meluas dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang bagaimana kita menyediakan makanan untuk hari ini, tetapi bagaimana kita memastikan masyarakat memiliki sumber pangan yang cukup, berkelanjutan dan terjangkau untuk masa depan. Karena itu, menjaga pangan berarti menjaga kehidupan sekaligus menjaga kedaulatan bangsa,”ujar Kolonel Inf Nyarman.
Ia menjelaskan, Nusa Tenggara Barat memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Kondisi tersebut perlu terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas pertanian, termasuk mendorong pola tanam dan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun, dengan menyesuaikan kondisi lahan, ketersediaan air, serta karakteristik wilayah.
Upaya memperkuat ketahanan pangan juga dilakukan jajaran Kodim 1606/Mataram melalui pendampingan Bintara Pembina Desa (Babinsa) diwilayah binaan. Babinsa tidak hanya hadir untuk membantu petani, tetapi juga menjadi penghubung dalam mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dilapangan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketersediaan air untuk pertanian. Kodim 1606/Mataram turut mendorong upaya penyediaan sumber air, termasuk pembangunan sumur bor dan pengembangan saluran irigasi diwilayah yang memiliki kerawanan kekeringan, seperti kawasan Bayan, Lombok Utara dan Sekotong, Lombok Barat.
Selain air, persoalan pupuk dan pemasaran hasil pertanian juga menjadi bagian dari perhatian. Menurut Dandim, petani membutuhkan kepastian mulai dari proses produksi hingga pemasaran agar hasil kerja keras mereka memberikan nilai ekonomi yang layak.
“Petani jangan hanya dibantu saat menanam. Kita juga harus memikirkan bagaimana hasil panennya terserap dengan baik dan memberikan keuntungan yang wajar. Kalau petani sejahtera, sektor pertanian akan semakin kuat dan generasi muda akan melihat pertanian sebagai bidang yang memiliki masa depan,”kata Kolonel Inf Nyarman.
Kodim 1606/Mataram juga mendorong pemanfaatan lahan yang memungkinkan untuk kegiatan produktif masyarakat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait. Pemanfaatan lahan secara tepat diharapkan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum memiliki lahan pertanian untuk mengembangkan usaha produktif.
Dalam dialog tersebut, Kolonel Nyarman juga menyoroti rendahnya minat sebagian generasi muda terhadap sektor pertanian. Profesi petani masih kerap dipandang sebagai pekerjaan tradisional dengan penghasilan yang tidak menjanjikan.
Menurutnya, pandangan tersebut perlu diubah melalui pengembangan pertanian modern yang memanfaatkan teknologi, manajemen usaha, inovasi, serta akses pasar.
“Anak muda jangan malu menjadi petani. Pertanian hari ini sudah berkembang. Dengan teknologi, pengelolaan yang baik, kreativitas, dan kemampuan melihat peluang pasar, pertanian bisa menjadi usaha yang menjanjikan,”tegasnya.
Ia menambahkan, pertanian tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai strategis bagi keberlangsungan bangsa. Karena itu, keterlibatan generasi muda sangat dibutuhkan agar sektor pertanian tidak kehilangan penerus.
Sementara itu, presenter RRI Pro 1 Mataram, Putri Mentari dalam dialog tersebut menilai pembahasan ketahanan pangan bersama Dandim 1606/Mataram memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, isu pangan sering kali baru menjadi perhatian ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga. Padahal, ketahanan pangan merupakan proses panjang yang melibatkan petani, pemerintah, TNI, masyarakat, dunia usaha, hingga generasi muda.
“Pangan itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Setiap hari kita makan, tetapi belum tentu kita menyadari bahwa dibalik makanan yang tersaji ada proses panjang dan perjuangan para petani. Dialog ini menjadi penting karena mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama,”ungkap Putri Mentari.
Ia juga mengapresiasi perhatian Kodim 1606/Mataram terhadap sektor pertanian dan peran Babinsa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ditingkat Desa.
“Ketika TNI, pemerintah, petani, dan masyarakat bisa bergerak bersama, persoalan pangan tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata dilapangan,”lanjutnya.
Kisah Belalang Goreng dan Perjalanan dari Keluarga Petani
Ditengah pembahasan mengenai ketahanan pangan, Kolonel inf Nyarman membagikan kisah masa kecilnya yang tumbuh dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana.
Salah satu kenangan yang masih melekat hingga kini adalah belalang goreng yang dahulu menjadi salah satu makanan sederhana ketika dirinya mencari makanan bersama sang ibu.
Bagi sebagian orang, belalang goreng mungkin hanya dikenal sebagai makanan tradisional. Namun bagi Kolonel Nyarman, makanan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam, yakni tentang kesederhanaan, perjuangan keluarga, kasih sayang seorang ibu, serta perjalanan hidup yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Kisah tersebut sekaligus menggambarkan bahwa pangan bukan hanya persoalan angka produksi dan konsumsi. Didalamnya terdapat cerita kehidupan, perjuangan keluarga, serta harapan agar generasi berikutnya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Menutup dialog, Dandim 1606/Mataram kembali menekankan bahwa ketahanan pangan harus dibangun secara bersama-sama. Pemerintah, TNI, petani, masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan generasi muda memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan sektor pangan.
“Pangan kuat, masyarakat tangguh, Indonesia berdaulat. Ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah semangat yang harus diwujudkan melalui kerja nyata. Kita harus menjaga lahan pertanian, menghargai petani, memperkuat produksi, memastikan hasil panen memiliki nilai ekonomi, dan mengajak generasi muda untuk terlibat,”pungkas Dandim 1606/Mataram, Kolonel Inf Nyarman.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menjadikan ketahanan pangan bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia dimasa depan.
(Orik / 002)






