Home / Daerah / KETUM YPTKIS DAN KETUM LEMBAGA PEMBERDAYAAN PURNA PMI MENGHADIRI GRAND OPENING KUWOO COFEE & RESTO DI PAOK MOTONG

KETUM YPTKIS DAN KETUM LEMBAGA PEMBERDAYAAN PURNA PMI MENGHADIRI GRAND OPENING KUWOO COFEE & RESTO DI PAOK MOTONG

LCN, Lombok Timur – NTB, Sebagai bentuk kolaborasi lembaga yang sama-sama bergerak pada bidang Pekerja Migran Indonesia, Ketum YPTKIS dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Purna PMI bersepakat untuk bergandengan tangan guna mewujudkan efektifitas program. Hal itulah yang diutarakannya pada pertemuan Grand Opening Kuwoo Cofee & Resto di Paok Motong, Lombok Timur, Minggu sore (28/12/2025).

Pada pertemuan itu, kedua ketua lembaga bersepakat bahwa tanpa adanya kolaborasi dan saling mendukung, cita-cita besar untuk terus menelurkan berbagai program yang berpihak pada PMI akan sulit terwujud.

Ketua Umum YPTKIS akan berfokus pada program pra hingga kepulangan PMI, bagaimana menciptakan iklim yang mendukung produktifitas PMI hingga kepulangan kembali ke tanah air.

“Insya Allah kita nanti kerjasama mengusahakan pendanaan, bagaimana nanti kita membentuk koordinator tiap-tiap kecamatan. kenapa saya bilang begitu, banyaknya PMI yang pulang dari luar negeri tidak punya skill kita kembangkan,”ungkap Henly.

Menurut Ketum YPTKIS itu, jika para PMI yang pulang ini tidak dapat pembinaan khususnya mereka yang tanpa memiliki skill, maka modal yang mereka hasilkan dan bawa pulang akan habis digunakan belanja secara konsumtif.

“Seperti yang pulang dari Singapur, pulang dari Hongkong mereka dihabiskan dananya secara konsumtif saja. Jika orang-orang yang pulang merantau ini dibina, diberi pelatihan soft skill, diharapkan modal yang mereka bawa pulang bisa menjadi modal yang produktif, artinya tidak habis konsumtif sepenuhnya,”tambahnya.

Mereka yang pulang dari luar negeri itu, kata Henly banyak yang bingung apa yang harus dilakukan dikampung halamannya, bingung yang ujungnya ketergantungan pada kerja diluar negeri. Nah disinilah peran kita untuk memberikan soft skill. Mereka memiliki dana, menurut Henly tapi bingung mau ngapain.

Hal senada diungkapkan Ketua Lembaga Pemberdayaan Purna PMI yang mengatakan bahwa ketiadaan soft skill membuat sebagian besar masyarakat purna PMI ini tidak tahu harus berbuat apa dengan modal yang dimiliki dari hasil kerja diluar negeri itu.

Maka jika masyarakat purna PMI dibiarkan tanpa pembinaan, mereka akan terus menerus berada pada kebingungan. Oleh sebab itu, menurut Maryun peran itulah yang harus dihadirkan pada mereka.

Pandangan ini dipertegas oleh Pembina kedua lembaga tersebut, Subhan Bahtiar mengatakan kerja besar ini gak bisa dilakukan oleh orang per orang atau hanya satu lembaga saja tanpa kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Di sini juga perlu melibatkan stakeholder-stakeholder terkait, jadi tidak akan maksimal kalau hanya pemerintah saja (yang menggarap program ini) baik itu pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah kabupaten maupun provinsi terus BP3MI. Nah perlu juga kita berkolaborasi dengan misalnya Yayasan Perlindungan TKI Sejahtera (YPTKIS) dan Lembaga Pemberdayaan Purna PMI,” jelas Subhan.

Terakhir, Subhan mengungkap bagaimana peran YPTIS beberapa tahun ini yang cukup bergerilya memperjuangkan nasib para PMI, bagaimana lembaga ini memulangkan jenazah PMI dan berbagai kegiatan lainnya.

“Termasuk kegiatan hari ini kita berkolaborasi dengan Lembaga Pemberdayaan Purna PMI dalam rangka Grand Opening Kuwoo Cofee & Resto, “tutupnya.

(BUDI / LCN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *