LCN – Mataram, – Tabir gelap menyelimuti kawasan wisata Suranadi, Narmada. Sebuah pertemuan singkat disebuah homestay berubah menjadi tragedi berdarah yang merenggut nyawa seorang laki – laki (51) tahun asal lombok timur. Korban tewas secara tragis setelah diduga dikeroyok, diikat, hingga disekap dibawah terpal dalam sebuah pelarian maut menuju arah timur.Hingga Selasa (31/03/2026), Sat Reskrim Polresta Mataram Polda NTB, telah bergerak kilat dan berhasil mengamankan sembilan orang yang kini tengah menjalani pemeriksaan intensif.
Kasat Reskrim Polresta Mataram Polda NTB, AKP I Made Dharma, YP., menerangkan hanya berjarak Lima menit, aroma konspirasi tercium dalam insiden ini. Segalanya bermula saat korban masuk ke sebuah kamar bersama seorang remaja perempuan berusia 17 tahun. Namun, belum sempat napas berhembus panjang, hanya dalam waktu lima menit, pintu kamar didobrak paksa oleh sekelompok orang yang seolah sudah menunggu momentum tersebut.
”Diduga terjadi aksi pengeroyokan hebat di dalam kamar segera setelah pintu didobrak,” ungkap I Made Dharma mewakili Kapolresta Mataram.
Lebih lanjut, I Made Dharma mengungkapkan kekejaman pelaku berlanjut diluar kamar. Korban yang sudah tak berdaya diseret masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan menuju Lombok Timur, korban yang masih berusaha mempertahankan sisa nyawanya dengan meronta dalam kondisi terikat, justru dibungkam paksa oleh pelaku menggunakan selembar terpal,”paparnya
Nahas, saat mobil tiba di Puskesmas Kopang dengan dalih “mengantar pasien”, takdir berkata lain. Begitu ikatan dilepas dan terpal dibuka, laki – laki 51 tahun itu sudah dalam kondisi kaku tak bernyawa. Tim medis yang mencium kejanggalan pada luka-luka ditubuh korban segera melaporkan temuan ini ke pihak berwajib.
Kini, publik menanti jawaban, apakah ini merupakan aksi main hakim sendiri, jebakan terencana, ada motif dendam yang lebih dalam? Polisi masih mendalami peran masing-masing dari sembilan orang yang diamankan, termasuk status remaja perempuan yang menjadi saksi kunci dilokasi kejadian.
”Kami pastikan proses hukum berjalan tegas. Saat ini korban sudah diotopsi di RS Bhayangkara untuk melengkapi bukti-bukti kekerasan,”pungkas I Made Dharma.
Tragedi ini menjadi noda hitam dikawasan wisata Suranadi, sekaligus peringatan bagi masyarakat akan bahaya aksi premanisme dan pentingnya kontrol ketat diarea penginapan,”tandasnya.
(Orik / 002)








