LCN – Mataram, — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Polresta Mataram Polda NTB, tak sekadar diisi dengan prosesi seremonial belaka. Di tengah gempuran arus globalisasi, radikalisme, hingga maraknya hoaks di media sosial, seluruh personel kepolisian dituntut untuk tidak sekadar menghafal Pancasila, melainkan menjadikannya doktrin nyata dalam setiap pelayanan publik dan penegakan hukum.
Ketegasan tersebut mengemuka dalam Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Lapangan Mapolresta Mataram, Kamis (01/10/2026). Upacara dipimpin langsung oleh Kabagren Polresta Mataram Kompol Tauhid, S.H., selaku inspektur upacara, serta dihadiri jajaran Pejabat Utama (PJU), Kapolsek, perwira, bintara, hingga ASN Polri.
Dalam amanatnya, Kompol Tauhid menegaskan bahwa peringatan setiap 1 Oktober merupakan momentum krusial untuk mengingat kembali sejarah kelam perjuangan bangsa, khususnya tragedi G30S/PKI 1965, sekaligus membakar kembali semangat persatuan nasional.
Namun, fokus utama peringatan tahun ini tertuju pada ancaman era modern. Ideologi negara kini diuji bukan lagi melalui pertempuran fisik semata, melainkan melalui maraknya narasi intoleransi, provokasi media sosial, dan lunturnya kepedulian sosial akibat sikap individualistis.
Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Mataram Polda NTB, Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas Iptu Edy Sutrisno, menegaskan bahwa jajaran Polresta Mataram harus berdiri di barisan terdepan sebagai cerminan nilai-nilai Pancasila.
“Menjaga Pancasila bukan sekadar menghormati dasar negara, tetapi harus bisa dituangkan dalam kinerja dan kehidupan sehari-hari,”tegas Iptu Edy Sutrisno.
Pihaknya menekankan agar seluruh personel Polri di lingkungan Polresta Mataram mampu menjadi figur teladan di tengah masyarakat—mengedepankan pendekatan yang humanis, responsif, berkeadilan, serta menjunjung tinggi toleransi dalam menjaga kondusivitas wilayah hukum Kota Mataram.
Melalui momentum ini, Polresta Mataram mempertegas komitmennya untuk tidak hanya menjadi pengayom masyarakat, tetapi juga benteng kokoh dalam menjaga keutuhan NKRI dari segala bentuk ancaman pemecah belah bangsa.
(Orik / 002)







