LCN – Lombok Tengah – NTB, Ditengah rutinitas pembinaan, sebuah inisiatif hangat menyelimuti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah. Aula LPKA menjadi saksi bisu kegiatan konseling tematik bertajuk “Kita Semua Bersaudara”, yang digagas berkat kolaborasi apik antara Sentra Paramita Mataram dan Biro Psikologi Adeena, Jumat (11/07/2025).
Kegiatan ini tak hanya menghadirkan para psikolog profesional, namun juga membuka lembaran baru dalam upaya pembinaan kepribadian dan kesehatan mental anak-anak binaan.
“Kegiatan ini bukan hanya ajang untuk belajar bersama, tetapi juga ruang untuk saling mengenal dan menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Kita semua bersaudara, dan saling mendukung adalah kunci untuk tumbuh lebih baik,”tutur Kepala Seksi
Pembinaan, Herri Jufrianto, dalam sambutan pembukanya. Pesan ini bukan sekadar kalimat, melainkan penegasan akan filosofi yang ingin dibangun: rasa kekeluargaan dan kebersamaan sebagai fondasi utama.
Dari Keceriaan Hingga Introspeksi Mendalam
Suasana canggung langsung mencair berkat sesi ice breaking yang interaktif. Tawa dan sorak-sorai anak-anak binaan membuktikan efektivitas metode yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri dan menciptakan keakraban. Momen ini menjadi jembatan menuju sesi inti, di mana para psikolog dengan keahliannya memberikan materi konseling. Tema-tema seperti pemahaman diri, membangun hubungan sehat dan pengelolaan emosi positif, disajikan dalam diskusi terbuka yang memicu partisipasi aktif anak-anak.
Kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah ruang aman bagi anak-anak untuk berbagi pengalaman dan merasakan dukungan. Refleksi bersama diakhir sesi menjadi penutup yang menyentuh. Kesan, pesan, dan harapan yang terucap dari bibir mereka menjadi bukti nyata bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, memiliki potensi untuk tumbuh dan berubah. Bahwa dengan merasa diterima dan dihargai, mereka adalah bagian dari sebuah keluarga besar yang saling menguatkan.
Inisiatif ini menegaskan komitmen LPKA Kelas II Lombok Tengah yang melampaui sekadar pembinaan fisik. Dengan pendekatan holistik, kegiatan ini menyentuh dimensi psikologis, emosional dan sosial anak-anak binaan. Sebuah langkah progresif dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi mereka ke masyarakat. Ini adalah bukti bahwa harapan untuk masa depan yang lebih baik, dapat dirajut melalui sentuhan empati dan pendampingan profesional,”tandasnya.
(Orik / LCN)