Home / Daerah / Kalapas Terbuka Lombok Tengah: Borgol Hati, Bukan Tangan Napi

Kalapas Terbuka Lombok Tengah: Borgol Hati, Bukan Tangan Napi

LCN – Lombok Tengah – NTB, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Terbuka Lombok Tengah, Muslim Surbakti, memperkenalkan sebuah filosofi pembinaan narapidana yang inovatif: memborgol hati, bukan tangan. Pendekatan ini bertujuan agar narapidana tidak lagi memiliki keinginan untuk berbuat negatif, melainkan tumbuh kesadaran dan rasa hormat yang mendalam terhadap pembinaan yang mereka terima.
Filosofi “Borgol Hati” Ubah Paradigma Pembinaan, Rabu (23/07/2025).

Muslim Surbakti menjelaskan, di Lapas Terbuka, narapidana tidak lagi diborgol secara fisik seperti di lapas umum. Fokus utamanya, yaitu penguatan karakter dan hati. “Aduh, enggak enak bapak itu baik sama kita, bapak itu perhatian sama kita,”ujarnya, menirukan respons positif yang diharapkan muncul dari narapidana. Ia yakin, pendekatan ini lebih efektif dalam membentuk kesadaran diri agar narapidana tidak mengulangi kesalahan, bukan karena takut hukuman, tetapi karena kesadaran moral yang terbangun. Kolaborasi dan Komunikasi Sebagai Kunci Utama

Baru sebulan menjabat setelah pindah dari Sumatera Utara, Surbakti berkomitmen menjalin kolaborasi erat dengan media sebagai mitra strategis, membangun hubungan yang transparan dan sinergis. Dalam pembinaan narapidana, ia menekankan pentingnya komunikasi dua arah. “Kami kumpulkan, kami ajak bercerita, dari situ kita kan secara tidak langsung kadang-kadang mengetahui apa sih sebetulnya permasalahan dia,”ungkapnya. Metode dialog bebas ini dinilai lebih efektif dalam mengungkap permasalahan narapidana dibandingkan wawancara formal yang kaku.

Meskipun masa tugasnya tinggal dua tahun sebelum purna bakti, Surbakti bertekad untuk meneruskan dan mengoptimalkan pola pembinaan yang sudah ada. Ia akan mengidentifikasi program yang mungkin terlupakan atau belum optimal, seperti pembenahan kolam renang yang tidak berfungsi baik. “Misi saya ke depan tidak banyak, hanya satu meneruskan pola pembinaan yang sudah dibuat oleh pendahulu saya,”tegasnya. Ia berharap, singkatnya masa tugasnya bisa membawa manfaat signifikan bagi narapidana dan masyarakat NTB.

Surbakti juga menyoroti perbedaan mencolok Lapas Terbuka dengan lapas umum. Dengan minimnya pembatas fisik, hanya jaring kawat besi enam tingkat dibelakang kamar yang langsung berbatasan dengan sungai dan sawah, filosofi “borgol hati” menjadi krusial. “Kalau kita garik tangannya terputus ya lari, tapi kalau kita coba garik hatinya ini tidak ada,”pungkas Surbakti, menunjukkan keyakinannya penguatan mental dan hati narapidana, yakni benteng terkuat yang bisa mencegah mereka kembali ke jalan yang salah,”tandasnya.

 

(Orik / LCN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *