LCN – Lombok Timur – NTB, Ditengah deburan ombak dan sorak-sorai ribuan warga, Festival Balap Sampan Tradisional Ekas di Pantai Ekas Buana mencapai puncaknya. Namun, acara yang meriah, Minggu (03/08/2025) ini bukan hanya tentang siapa yang tercepat. Dibalik setiap kayuhan dayung, ada janji tulus dari seorang pemimpin yang memastikan tradisi berharga ini tidak akan pernah tenggelam.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, secara langsung hadir untuk menutup festival. Dengan tegas, ia menyatakan komitmennya untuk terus mendukung acara ini, sebuah pernyataan yang disambut riuh tepuk tangan dari para nelayan dan masyarakat setempat. “Ini bukan sekadar lomba, ini adalah napas budaya kita. Selama saya menjabat, festival ini akan terus hidup,”ujarnya.
Pernyataan ini sangat berarti. Selama puluhan tahun, tradisi balap sampan ini sempat redup, terancam dilupakan oleh generasi muda yang lebih tertarik pada modernitas. Namun, berkat dukungan pemerintah daerah dan semangat para tetua adat, festival ini kembali bangkit dan kini menjadi magnet pariwisata yang kuat.
Salah satu peserta, Mamiq Jani (60), yang telah mengikuti balapan sejak remaja, mengaku terharu. “Dulu kami cuma balapan antar kampung. Sekarang, dukungan bupati membuat kami merasa dihargai. Ini warisan nenek moyang, kami bangga bisa melestarikannya,”katanya dengan mata berkaca-kaca.
Festival tahun ini diikuti oleh puluhan tim dari berbagai Desa pesisir. Setiap sampan dihias dengan motif warna-warni, mencerminkan identitas masing-masing tim. Mereka tidak hanya bertarung memperebutkan hadiah, tetapi juga kehormatan untuk membawa pulang piala bergilir yang disakralkan. Pemenang tahun ini, tim “Naga Laut” dari Desa Tanjung Luar, disambut bagai pahlawan.
Dengan komitmen kuat dari bupati dan antusiasme masyarakat yang tak pernah padam, Festival Balap Sampan Tradisional Ekas kini tidak lagi hanya menjadi agenda tahunan. Ia adalah simbol keberanian, gotong royong dan bukti nyata bahwa tradisi dapat terus bersinar ditengah gempuran zaman,”pungkasnya.
(Orik / LCN)