LCN – Mataram, – Kota Mataram bersiap menghadapi momentum langka yang menguji kedewasaan toleransi beragama. Kapolresta Mataram Polda NTB, Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K., M.M., menegaskan pihak Kepolisian bersama Pemerintah Kota telah menyusun skema pengamanan ketat untuk memastikan perayaan Nyepi dan Malam Takbiran berjalan beriringan tanpa gesekan, ungkapnya Jumat 13/03/2026.
Langkah ini diambil menyusul potensi jatuhnya 1 Syawal yang berdekatan atau bersamaan dengan rangkaian ritual Nyepi umat Hindu di Ibu Kota Provinsi NTB tersebut.
”Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K.MH., mengungkapkan aturan main untuk Malam Takbiran tahun ini akan jauh berbeda jika terjadi bersamaan dengan prosesi Nyepi. Berdasarkan maklumat Walikota, takbiran tidak lagi dipusatkan dijalur protokol kota, melainkan dibatasi ditingkat kecamatan.
”Takbiran hanya dilaksanakan ditingkat kecamatan dengan ketentuan dilarang menggunakan kendaraan roda empat maupun roda tiga. Peserta juga dilarang keras melintasi lokasi-lokasi yang menjadi konsentrasi pemukiman umat Hindu,”tegas Kombes Pol. Hendro Purwoko.
Selain itu, waktu pelaksanaan akan dibatasi ketat agar tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang melaksanakan tapa brata penyepian.
Tidak hanya takbiran, evaluasi besar juga menyasar prosesi ritual umat Hindu. Belajar dari pengalaman tahun lalu dimana pawai Ogoh-ogoh seringkali molor hingga larut malam, tahun ini aturan waktu diberlakukan dengan rapi.
”Pawai Ogoh-ogoh harus sudah selesai pukul 18.00 WITA. Ini demi menghormati saudara-saudara kita umat Muslim yang sedang bersiap berbuka puasa dan menjalankan ibadah malam. Kami tidak ingin ada kejadian seperti tahun lalu yang meleset sampai jam setengah sepuluh malam,”tambahnya.
Untuk mengawal skema ini, petugas gabungan akan disiagakan disetiap titik krusial, mulai dari perempatan jalan hingga batas-batas lingkungan. Uniknya, pengamanan ini juga melibatkan Pecalang (petugas keamanan adat Hindu) yang akan bersinergi dengan Polri dan TNI.
Tujuannya satu, memastikan tidak ada massa takbiran yang nyasar ke zona tenang Nyepi, begitu juga sebaliknya.
Kapolresta mengimbau seluruh warga Mataram untuk menjaga predikat kota ini sebagai wilayah yang penuh harmoni. Ia menekankan bahwa keberagaman sebagai kekuatan, bukan sekat pemisah.
”Kita tunjukkan Mataram sebagai kota yang dewasa dalam beragama. Saling menjaga, saling menghormati, agar semua bisa merasakan kekhusyukan ibadah masing-masing,”pungkasnya.
(Orik / 002)








