LCN – Lombok Barat, – NTB, Mentari pagi baru saja menyibak perbukitan di pesisir Desa Tawun, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, ketika sejumlah nelayan tampak berjuang mendorong perahu mereka yang kandas akibat air laut yang surut. Ditengah pasir basah dan ombak kecil yang tertahan dibibir pantai, hadir sosok Bintara Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 1606-06/Sekotong yang tanpa ragu ikut turun tangan membantu warga, Senin (16/02/2026).
Tanpa sekat dan tanpa aba-aba panjang, Babinsa Tawun, Serka Siful Bahri bersama para nelayan bahu-membahu mendorong perahu kayu menuju bibir air yang lebih dalam. Keringat bercucuran, kaki terbenam dilumpur pasir, namun semangat kebersamaan terasa begitu kuat. Bagi para nelayan, air surut bukan hal baru. Namun ketika perahu sulit bergerak, tenaga tambahan menjadi harapan agar aktivitas melaut tidak tertunda.
Salah seorang nelayan, Deni (38) mengungkapkan bahwa kondisi air surut kerap menghambat keberangkatan mereka mencari ikan. “Kalau terlambat sedikit saja, hasil tangkapan bisa berkurang. Jadi bantuan seperti ini sangat berarti,”ujarnya dengan napas tersengal.
Babinsa Desa Tawun, menegaskan bahwa kehadirannya di tengah masyarakat bukan hanya soal keamanan wilayah, tetapi juga tentang kepedulian dan kebersamaan. “Membantu warga mendorong perahu adalah bagian dari komitmen untuk selalu hadir disetiap kesulitan masyarakat binaan, “ucap Serka Siful Bahri.
Kegiatan sederhana ini menjadi gambaran kemanunggalan TNI dan rakyat. Di pesisir Sekotong yang tenang, solidaritas tumbuh tanpa perlu seremoni. Ketika air laut surut, semangat gotong royong justru meninggi. Perahu-perahu akhirnya kembali mengapung, membawa harapan baru bagi keluarga yang menanti hasil tangkapan dirumah.
Momen tersebut bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan cerminan kuatnya nilai kebersamaan di Desa Tawun. Di antara debur ombak dan hamparan pantai, tersimpan cerita tentang kepedulian yang tulus dan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu,”pungkasnya.
(Orik / 002)






