Home / Daerah / Hari Kedua Moderation Connect: The 3rd AICRM 2026 Hadirkan Prof Halim Rane dari Griffith University

Hari Kedua Moderation Connect: The 3rd AICRM 2026 Hadirkan Prof Halim Rane dari Griffith University

LCN – Mataram, – NTB, Rangkaian kegiatan Moderation Connect memasuki hari kedua dengan digelarnya The 3rd Annual International Conference on Religious Moderation (AICRM) 2026.

Mengusung tema “Bridging Culture, Law, and Eco-Theology: A Religious Moderation Approach to Global Peace and Sustainability”, konferensi ini menjadi forum akademik internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan lintas negara untuk mengkaji peran moderasi beragama dalam menautkan budaya, hukum, dan eko-teologi demi terciptanya perdamaian global dan keberlanjutan.

Sebagai salah satu pembicara, hadir Prof Halim Rane dari Griffith University, Australia, yang menyampaikan paparannya secara daring. Kehadirannya menegaskan dimensi internasional konferensi sekaligus menghadirkan perspektif global mengenai moderasi beragama.

Prof Halim Rane dikenal luas sebagai salah satu sarjana terkemuka dibidang kajian Islam dan sosiologi agama. Ia memimpin bidang studi Islam in Society di Griffith University dan telah menghasilkan lebih dari 80 publikasi ilmiah, termasuk sejumlah buku yang menjadi rujukan pada program kajian Islam diberbagai universitas.

Rekam jejak penelitiannya mencakup pendekatan kontekstual dan maqashid dalam penafsiran Al-Qur’an, kontra-narasi terhadap ekstremisme, kajian covenants dalam Islam, serta relasi Islam dan Barat. Atas kontribusinya dibidang pendidikan, ia pernah dianugerahi penghargaan bergengsi Australian University Teacher of the Year dan aktif memimpin Australian Association of Islamic and Muslim Studies (AAIMS).

Dalam paparannya, Prof Rane mengajak peserta memandang moderasi beragama bukan sekadar jalan tengah, melainkan sebuah cara pandang yang menautkan budaya, hukum dan eko-teologi dalam satu tarikan napas. Ia menyoroti bagaimana prinsip keseimbangan (wasathiyyah) dan amanah manusia sebagai penjaga bumi dapat menjadi fondasi etis bagi perdamaian global sekaligus jawaban atas krisis keberlanjutan, “paparnya Jumat 14/08/2026.

Dengan pendekatan penafsiran yang kontekstual dan berorientasi pada maqashid al-shari’ah, ia menegaskan bahwa merawat harmoni antarmanusia dan menjaga kelestarian alam adalah dua sisi dari komitmen keagamaan yang sama, sebuah pesan yang menyentuh inti tema konferensi tahun ini.

“Moderasi beragama bukan sekadar berdiri ditengah, tetapi keberanian menautkan apa yang selama ini kerap dipisahkan, budaya, hukum, dan tanggung jawab kita atas bumi. Ketika keseimbangan kita maknai sebagai amanah, merawat perdamaian antarmanusia dan menjaga kelestarian alam menjadi satu ibadah yang sama.

Konferensi ini turut dihadiri oleh mahasiswa internasional UIN Mataram yang berasal dari beragam negara, mencerminkan keberagaman sivitas akademika kampus sekaligus menegaskan komitmen UIN Mataram terhadap internasionalisasi pendidikan tinggi.

Para peserta mahasiswa asing tersebut berasal dari 11 negara, yakni Afghanistan, Aljazair, Bangladesh, Ghana, Mesir, Nigeria, Pantai Gading, Sudan, Thailand, Togo dan Yaman. Kehadiran mereka memperkuat suasana dialog lintas budaya dan lintas negara yang menjadi ruh dari moderasi beragama.

The 3rd AICRM 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga dari konferensi tahunan ini dan menjadi bagian dari rangkaian Moderation Connect. Selain sesi utama bersama pembicara, konferensi menghadirkan sesi paralel /presentasi artikel terpilih dari berbagai kampus negeri dan swasta dinusa tenggara barat. Artikel-artikel terpilih rencananya akan dipublish dijurnal international dan nasional.

Seluruh rangkaian Moderation Connect yang berlangsung selama dua hari dibuka sekaligus ditutup secara resmi oleh Ketua LP2M UIN Mataram, Prof. Dr. H. Kadri, M.Si.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para pembicara, peserta, dan panitia yang telah menghidupkan forum ini sebagai ruang komunikasi inklusif untuk merawat harmoni sosial.

Prof Kadri menegaskan moderasi beragama perlu terus dirawat lintas budaya, disiplin ilmu, dan negara, tidak berhenti pada gagasan, melainkan hadir dalam aksi nyata bagi perdamaian dan keberlanjutan.

Ia berharap Moderation Connect menjadi agenda tahunan yang memperkuat jejaring akademik sekaligus kontribusi UIN Mataram ditingkat internasional.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pembicara dan peserta. Forum ini menegaskan bahwa moderasi beragama tumbuh dari ruang komunikasi yang inklusif, tempat perbedaan budaya, keilmuan dan bangsa bertemu bukan untuk berdebat, melainkan untuk merawat harmoni dan menggerakkan aksi nyata bagi perdamaian serta keberlanjutan.

Moderation Connect merupakan rangkaian kegiatan bertema moderasi beragama yang diselenggarakan oleh Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram, tujuan kegiatan ini sebagai ruang perjumpaan multi pihak dan lintas iman agar semangat moderasi beragama tetap hidup diruang layanan public, akademis dan advokasi,”tandasnya.

 

 

(Orik / 002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *