Home / Berita POLRI / Sinergi di Kaki Rinjani: Kala Toleransi dan Kedamaian Mengalir di Detik-Detik Waisak Bayan

Sinergi di Kaki Rinjani: Kala Toleransi dan Kedamaian Mengalir di Detik-Detik Waisak Bayan

LCN – Lombok Utara, – Jarum jam menunjukkan pukul 16.44.44 WITA. Suasana dipelataran Vihara Rinjani Dhamma Giri, Desa Sambik Elen, seketika hening. Ratusan umat Buddha tertunduk khusyuk, larut dalam meditasi mendalam menyambut Detik-Detik Waisak 2570. Diluar pagar vihara, beberapa personel kepolisian berjaga dengan siaga namun ramah, memastikan setiap helai napas doa sore itu mengalir tanpa usikan, Minggu (31/05/2026)

Kecamatan Bayan, Lombok Utara, kembali menjadi panggung nyata bagi indahnya keberagaman Indonesia. Dibawah tema besar “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri”, perayaan Waisak tahun ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol kuatnya tenun toleransi diakar rumput.

Langkah preventif dan humanis dipimpin langsung oleh Kapolsek Bayan Polres Lombok Utara Polda NTB, IPTU I Wayan Cipta Naya, S.H., M.I.Kom. Bersama jajarannya, ia bergerak maraton memantau situasi diempat titik vihara utama, yakni Vihara Rinjani Dhamma Giri (Desa Sambik Elen), Vihara Mulya Dharma, Vihara Bina Loka (Desa Gunjan Asri), Vihara Viriya Dharma Santi (Desa Akar-Akar)

Kehadiran Polri dilapangan bukan sekadar tentang pengamanan fisik berjadwal, melainkan pesan tegas tentang kehadiran negara dalam menjamin kebebasan beribadah.

“Polri hadir untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah masyarakat berjalan aman dan lancar. Momentum Waisak ini adalah simbol pentingnya toleransi, persaudaraan, dan kedamaian yang harus kita rawat bersama di tengah masyarakat,”ujar IPTU I Wayan Cipta Naya disela-sela kegiatannya.

Rangkaian ritual suci dimulai sejak sore hari. Umat Buddha dengan khidmat melangsungkan pradaksina, prosesi berjalan mengelilingi vihara sebagai bentuk penghormatan, yang dilanjutkan dengan penyerahan Amisa Puja. Suasana kian menyentuh saat bait-bait puisi Trisuci Waisak dibacakan, disusul puja bakti, dan pemercikan air tirta suci yang membawa pesan kesejukan bagi jiwa.

Pihak pengurus vihara pun menyampaikan apresiasi mendalam atas pengawalan ini. Bagi mereka, Waisak tahun ini sebagai momentum refleksi untuk memperkuat nilai-nilai kebijaksanaan, menebar cinta kasih tanpa batas, sekaligus menegaskan kepatuhan terhadap hukum negara.

Ketika malam mulai menjemput pada pukul 18.50 WITA, seluruh rangkaian ibadah resmi berakhir. Tidak ada ketegangan, yang tersisa hanya senyum hangat dan jabat tangan penuh kekeluargaan antara aparat dan warga. Bayan hari itu kembali membuktikan dalam balutan perbedaan, kedamaian selalu punya cara untuk menyatukan,”pungkasnya.

 

(Orik / 002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *