LCN – Lombok Timur, Pemuda Muhammadiyah sejak awal kelahirannya hadir sebagai garda terdepan gerakan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, serta pengkaderan ideologis dan kepemimpinan ditubuh Persyarikatan. Di Lombok Timur, Pemuda Muhammadiyah pernah menjadi ruang tumbuh kader-kader militan yang aktif dimasjid, sekolah, kampus, hingga ruang-ruang sosial kemasyarakatan.
Namun hari ini, kita patut melakukan refleksi bersama, mengapa keberadaan kader disejumlah wilayah dan cabang yang notabene merupakan basis besar Muhammadiyah justru mulai melemah, bahkan minim regenerasi?
Fakta ini tidak hanya menjadi kesan umum, tetapi penulis temukan secara langsung ketika harus mengadakan Musyawarah Cabang (Muscab) bersama Pemuda Muhammadiyah Lombok Timur.
Dalam proses tersebut, tampak bahwa dibeberapa wilayah dan cabang, struktur organisasi sulit dibentuk karena keterbatasan kader aktif, bahkan ada yang harus bekerja ekstra untuk sekadar memenuhi syarat formil kepengurusan. Realitas ini menjadi alarm serius bahwa regenerasi kader sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan jumlah kader yang menurun, tetapi juga tentang berkurangnya denyut aktivitas dan proses kaderisasi yang berkelanjutan. Dibeberapa cabang, struktur organisasi masih ada, namun tidak diiringi dengan gerakan yang hidup. Rapat jarang, kegiatan minim dan regenerasi tidak berjalan secara sistematis.
Akibatnya, roda organisasi berjalan ditempat dan sangat bergantung pada figur-figur lama yang semakin terbatas oleh usia dan kesibukan.
Refleksi pertama yang perlu kita lakukan adalah meninjau kembali pola kaderisasi yang selama ini diterapkan. Apakah pendekatan kita masih relevan dengan realitas pemuda hari ini? Generasi muda kini hidup dalam dunia yang jauh lebih terbuka, cepat, dan penuh pilihan. Jika Pemuda Muhammadiyah hanya hadir sebagai organisasi struktural tanpa menawarkan ruang aktualisasi, pembinaan, dan gerakan yang menyentuh kebutuhan nyata pemuda, maka wajar jika mereka memilih jalur lain diluar organisasi.
Kedua, kita perlu jujur mengevaluasi kualitas kepemimpinan dan budaya organisasi ditingkat wilayah hingga cabang. Minimnya regenerasi sering kali bukan karena tidak adanya potensi kader, tetapi karena kurangnya kesadaran untuk membuka ruang, membina, dan mempercayakan estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya. Jika organisasi terlalu elitis, tertutup, atau berjalan dengan pola yang kaku, maka kader muda akan merasa asing di “rumahnya sendiri”.
Ketiga, tantangan eksternal juga tidak bisa diabaikan. Arus pragmatisme, individualisme, serta godaan aktivitas yang lebih instan dan populer membuat gerakan kaderisasi membutuhkan inovasi.
Pemuda Muhammadiyah di Lombok Timur harus mampu menjawab tantangan ini dengan menghadirkan program yang kontekstual: penguatan literasi, pemberdayaan ekonomi pemuda, advokasi sosial, hingga dakwah kreatif berbasis komunitas. Basis Muhammadiyah yang besar seharusnya menjadi kekuatan utama, bukan justru wilayah yang mengalami kemandekan.
Evaluasi ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan sebagai ikhtiar menyelamatkan masa depan organisasi. Pemuda Muhammadiyah Lombok Timur harus kembali meneguhkan identitasnya sebagai organisasi kader, bukan sekadar organisasi acara. Regenerasi harus dirancang sebagai agenda utama, bukan aktivitas tambahan. Setiap cabang perlu memetakan potensi pemuda, membangun ruang pembinaan yang konsisten, serta menciptakan iklim organisasi yang ramah, terbuka dan memberi makna.
Akhirnya, refleksi ini adalah panggilan bagi kita semua: pengurus, kader senior dan pemuda Muhammadiyah di seluruh Lombok Timur. Jika hari ini regenerasi mulai melemah, maka tanggung jawab kitalah untuk membangunnya kembali.
Sebab tanpa kader yang tumbuh dan berkelanjutan, Pemuda Muhammadiyah akan kehilangan ruhnya sebagai gerakan perubahan. Regenerasi bukan sekadar kebutuhan organisasi, melainkan amanah sejarah yang harus kita jaga bersama,”tandasnya.
(Budi / LCN)








