LCN – Diantara kekayaan bahari Nusa Tenggara Barat (NTB), mutiara Lombok tampil sebagai salah satu komoditas unggulan yang telah lama memikat pasar internasional. Dijuluki sebagai “butiran cahaya dari Lombok”, mutiara tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga menyimpan makna simbolis sebagai lambang keanggunan, kelembutan, dan keabadian. Kilau alaminya yang lembut menghadirkan kesan elegan tanpa berlebihan, menjadikannya perhiasan klasik yang tetap relevan sepanjang masa. baik dalam bentuk kalung, gelang, cincin, maupun anting.
Sejak dahulu, mutiara juga kerap dikaitkan dengan status sosial dan prestise pemiliknya. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi budidaya, mutiara kini semakin inklusif dan inovatif. Salah satu jenis yang menarik perhatian adalah mutiara Mabe (half pearl), yaitu mutiara setengah yang masih menempel pada cangkang. Keunikan bentuknya memudahkan pengolahan menjadi berbagai perhiasan artistik seperti bros dan gelang, yang tampil eksklusif sekaligus berbeda dari mutiara konvensional.
Di balik pesona mutiara Lombok, terdapat peran pelaku UMKM yang turut mengangkat nilai tambah produk lokal ke tingkat yang lebih tinggi. Salah satunya adalah Ny. Dwi Istianti, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana, yang telah lama berkecimpung dalam dunia kerajinan perhiasan mutiara. Dengan sentuhan kreativitas, ia memadukan mutiara dengan material logam mulia seperti emas dan perak, menghasilkan karya perhiasan yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelas dan bernilai seni tinggi.
Melalui brand usahanya yang dipromosikan lewat media sosial @galeri_wirabhakti162, Ny. Dwi Istianti aktif memperkenalkan produknya ke berbagai kalangan. Ia juga rutin mengikuti pameran, baik ditingkat lokal, nasional, hingga internasional, sebagai upaya memperluas jaringan pasar sekaligus memperkuat eksistensi mutiara Lombok dikancah global. Konsistensinya dalam berinovasi menjadi kunci dalam menjaga daya saing produk ditengah dinamika industri perhiasan yang terus berkembang.
Beralamat di Komplek Perumahan Korem 162 Gebang, Mataram, Ny. Dwi Istianti menjalankan usahanya dengan tetap menyeimbangkan peran sebagai istri prajurit dan anggota Persit. Suaminya, Mayor Danang Kristiyanto yang menjabat sebagai Dantim Intel Korem 162/Wira Bhakti, turut memberikan dukungan moral dalam pengembangan usaha tersebut.
Kisah Ny. Dwi Istianti menjadi bukti bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat inovasi, mampu menjelma menjadi produk bernilai global. Mutiara Lombok bukan sekadar perhiasan, melainkan representasi kekayaan alam dan budaya Indonesia yang terus bersinar, membawa nama daerah ke panggung dunia sekaligus menginspirasi lahirnya pelaku UMKM tangguh dari lingkungan Persit Kartika Chandra Kirana,”tutupnya.
(Orik / 002)








