LCN – Tas ketak merupakan salah satu warisan budaya unggulan dari Nusa Tenggara Barat yang telah menembus pasar dunia, sejajar dengan tenun dan mutiara Lombok. Berakar dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, anyaman ketak tidak sekadar produk kerajinan, melainkan representasi identitas budaya yang tetap hidup ditengah modernisasi.
Ketak berasal dari ranting tanaman merambat yang dikeringkan, kemudian dianyam secara manual oleh tangan-tangan terampil para perajin. Hasilnya adalah produk dengan tekstur kuat, warna cokelat alami dan karakter khas yang sulit ditiru. Selain sebagai tas, anyaman ketak juga banyak dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif interior, pelengkap meja makan, hingga aksesori penunjang gaya hidup modern yang mengusung konsep ramah lingkungan dan estetika etnik.
Inovasi menjadi kunci dalam menjaga eksistensi kerajinan tradisional ini. Melalui Galeri Wira Bhakti 162, para anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana menghadirkan terobosan kreatif dengan memadukan tas ketak tradisional dengan sentuhan modern. Kolaborasi unik ini memanfaatkan pilinan tali kresek sebagai aksen dekoratif yang ramah lingkungan, tanpa menghilangkan karakter asli anyaman ketak. Hasilnya adalah produk dengan tampilan yang lebih dinamis, berwarna dan “eye catching”, namun tetap mempertahankan nilai tradisi.
Tidak hanya itu, keindahan tas ketak semakin diperkaya dengan sentuhan mutiara Mabe (half pearl) yang memiliki kilau lembut dan bentuk khas. Dipadukan dengan balutan perak berkualitas serta desain eksklusif, unsur ini memberikan kesan mewah dan elegan pada produk yang sejatinya sederhana. Perpaduan antara unsur alami, daur ulang, dan material bernilai tinggi ini menciptakan harmoni baru dalam dunia kriya Nusantara memadukan tradisi, keberlanjutan dan estetika modern.
Di balik inovasi tersebut, terdapat peran aktif para pelaku UMKM dari lingkungan Persit, diantaranya Dewi Istianti dan Baiq Ike Aprilia Mustanty. Keduanya tidak hanya berperan sebagai penggerak usaha, tetapi juga sebagai agen pelestari budaya yang mampu mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi. Melalui platform media sosial seperti Instagram @galeri_wirabhakti162 dan @ibaiq29, serta TikTok, mereka terus memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan kriya Lombok kepada khalayak yang lebih luas.
Beralamat dikawasan Mataram dan Lombok Barat, usaha ini juga mencerminkan sinergi antara peran keluarga, organisasi dan pemberdayaan ekonomi. Dukungan dari keluarga serta semangat kebersamaan dalam Persit Kartika Chandra Kirana menjadi fondasi kuat dalam pengembangan usaha yang berkelanjutan.
Produk Galeri Wira Bhakti 162 kini tidak hanya menjadi pelengkap gaya bagi pecinta wastra Nusantara, tetapi juga pilihan tepat sebagai hadiah bernilai seni maupun suvenir eksklusif. Dengan mengedepankan kreativitas, ketelitian, dan kualitas, tas ketak Lombok hadir sebagai simbol harmoni antara warisan budaya dan inovasi masa kini.
Pada akhirnya, tas ketak bukan sekadar produk kerajinan, melainkan narasi tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi, berkembang, dan tetap relevan diera modern. Dari Lombok untuk dunia, harmoni ini terus teranyam, menghadirkan keindahan yang berakar dari budaya dan menjulang ke panggung global,”pungkasnya.
(Orik / 002)








