Home / Daerah / Desa Berdaya Trasnformatif : Jejak Kehidupan Yang Melahirkan Gagasan

Desa Berdaya Trasnformatif : Jejak Kehidupan Yang Melahirkan Gagasan

LCN – Mataram, Jejak gagasan membawa kita ke Kota Pasuruan pada dekade 1950-an. Di Pasar Senggol, salah satu pasar tertua dikota itu, denyut kehidupan berlangsung sejak pagi. Para petani datang membawa hasil bumi dari lereng Gunung Bromo. Pedagang kecil menjajakan kerupuk, tembakau, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Buruh, ibu rumah tangga, hingga para pencari nafkah bertemu dipasar.

Ditengah kehidupan pasar, Hajjah Sofijah membesarkan putri tunggalnya, Hajjah Alimah. Hajjah Sofijah tidak hanya mengajarkan putrinya cara berdagang. Ia mengajarkan cara melihat manusia. Hajjah Alimah menyaksikan langsung, bagaimana kerja keras dan memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, untuk keluar dari keterbatasan. Dari sanalah empati mulai tumbuh, bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman hidup.

Hajjah Alimah tumbuh besar bersama tiga putra Kiai Haji Abdul Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid. Seorang ulama kharismatik yang dikenal karena karomah dan kewaliannya. Karena Mbah Hamidlah, Ayah Hajjah Alimah luluh dan mengizinkan putri kesayangannya menikah dan dibawa ke Praya, Lombok Tengah.

Hajjah Alimah meneruskan apa yang diajarkan di Pasuruan kepada putranya. Lalu Muhamad Iqbal. Sejak kecil, ia tidak dibesarkan berjarak dengan lingkungannya. Ayahnya yang dikenal sebagai tokoh masyarakat kerap mengajaknya bertemu keluarga, kerabat dan warga dari berbagai lapisan kehidupan.

Hajjah Alimah sering mengajak putranya berinteraksi dengan masyarakat diberbagai pelosok, mendampingi kegiatan penelitian pertanian, bekerja bersama NGO asing dan lokal dan melihat langsung kehidupan masyarakat Desa dengan segala harapan dan keterbatasannya.

Pengalaman-pengalaman itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya,”pungkasnya.

 

(Orik / 002)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *