Home / Daerah / Dua Pekan di Tengah Duka, Tim Solidaritas KR-BNN NTB Pulang Membawa Persaudaraan

Dua Pekan di Tengah Duka, Tim Solidaritas KR-BNN NTB Pulang Membawa Persaudaraan

LCN – MANGGARAI TIMUR — Setelah dua pekan membersamai ribuan pengungsi korban gempa M7,7 NTT, Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB, akhirnya berpamitan dari Dampek, Manggarai Timur, Jumat malam (28/08/2026).

Perpisahan berlangsung dalam suasana khidmat dan haru. Satu per satu warga menyalami para relawan, sementara air mata jatuh bukan hanya dari ibu-ibu dan anak-anak yang selama ini mendapatkan pelayanan, tetapi juga para lelaki yang pernah menyaksikan istri mereka mendapat pertolongan persalinan ditengah duka bencana.

Pelepasan itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Diantara sambutan, doa dan tepuk tangan, terselip kesedihan karena orang-orang yang selama dua pekan hadir dalam keseharian pengungsian harus kembali ke daerahnya. Mereka yang datang sebagai relawan perlahan menjadi bagian dari kehidupan warga: menolong ketika sakit, memasak ketika lapar, mengantar bantuan ketika kebutuhan datang, dan hadir ketika rasa takut belum sepenuhnya hilang.

Bagi masyarakat Kecamatan Lamba Leda Utara, kehadiran Tim Solidaritas KR-BNN NTB bukan sekadar bantuan yang datang. Tim hadir ketika gempa membuat banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda dan rasa aman, lalu tinggal bersama mereka untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

“Disaat kami membutuhkan bantuan dan dukungan, hadir saudara-saudara kami dari Nusa Tenggara Barat,”kata Camat Lamba Leda Utara Emilianus Harjonit.

Emilianus menyampaikan apresiasi atas kepedulian Pemerintah Provinsi NTB dan seluruh relawan. Gempa 15 Agustus 2026 berkekuatan 7,7 magnitudo menyebabkan 14 orang meninggal dunia diwilayah kecamatan tersebut dan menimbulkan kerusakan besar disejumlah wilayah. Di Desa Satar Padut, sekitar 90 persen rumah warga mengalami kerusakan.

Mewakili para kepala desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kepala Desa Golo Mangung Engelbertus Anam mengaku tidak pernah menyangka perhatian dari NTB akan menjangkau wilayah-wilayah perbukitan dengan medan yang sulit dan jauh dari pusat pengungsian.

Menurutnya, tim datang membawa bantuan logistik, perlengkapan pengungsian, dapur umum hingga pelayanan kesehatan. Bantuan bahkan mengikuti masyarakat ke lokasi-lokasi tempat mereka bertahan setelah gempa.

Salah satunya dirasakan masyarakat Kampung Maki, Desa Satar Kampas, melalui dapur umum mandiri yang dibangun Tim NTB. Kehadiran dapur tersebut membuat masyarakat diwilayah perbukitan yang jauh dari pusat pengungsian dapat merasakan langsung dukungan yang diberikan.

“Kami tidak memiliki sesuatu yang besar untuk membalasnya. Yang dapat kami berikan hanyalah doa dan rasa terima kasih yang tulus,”ujar Engelbertus.

Tokoh masyarakat Desa Satar Kampas Wilibrodus Yonsisai Yudin juga mengaku semula tidak menyangka wilayah pegunungan akan mendapat perhatian. Bagi masyarakat, kehadiran tim hingga ke wilayah yang sulit dijangkau menjadi bukti bahwa respons kemanusiaan tidak berhenti dipusat pengungsian.

Kecepatan respons NTB, berawal sekitar dua jam setelah gempa terjadi pada 15 Agustus. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal langsung memanggil kepala perangkat daerah terkait untuk menyiapkan bantuan, sarana prasarana dan Tim Solidaritas. Kurang dari 24 jam setelah koordinasi itu, tim disiapkan untuk bergerak menuju wilayah terdampak.

Pada 16 Agustus, Gubernur NTB, bersama Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri dan jajaran Pemerintah Provinsi NTB, melepas tim dari Mataram. Sebanyak 30 kendaraan membawa personel, peralatan, logistik dan kebutuhan operasional menuju Pelabuhan Sape. Dengan dukungan ASDP, perjalanan dilanjutkan melalui dua kali penyeberangan hingga Labuan Bajo. Pada 17 Agustus, tim telah tiba di Flores dan langsung bergerak menjalankan misi kemanusiaan.

NTB datang dengan tim terpadu. Sebanyak 89 relawan kesehatan diterjunkan dalam dua tahap, terdiri atas 32 perawat, 28 dokter, enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis serta tenaga pendukung lainnya.

Lebih dari 4.000 pengungsi telah mendapatkan pelayanan kesehatan.

Di sektor pangan, 25 personel tim dapur umum setiap hari menyiapkan makanan bagi sekitar 3.000 orang untuk tiga kali makan. Sementara 15 personel tim penyisir logistik bergerak ke titik-titik pengungsian mandiri untuk memastikan kebutuhan pangan dan bantuan tetap menjangkau masyarakat.

Layanan tersebut menjadi bagian dari respons terpadu NTB, yang mencakup pelayanan kesehatan, dapur umum lapangan, dukungan teknis pengungsian, penyisiran logistik, kesehatan lingkungan hingga dukungan psikologis.

Sebelum pulang, tim memastikan dukungan tetap berlanjut. Tiga dapur umum mandiri telah dibentuk untuk dikelola masyarakat di Kampung Maki Desa Satar Kampas, Kampung Nanga Lira Desa Satar Padut dan Kampung Wae Tua Desa Golo Mangung.

Tidak hanya itu, sesuai arahan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, sejumlah sarana yang digunakan selama masa tanggap darurat juga ditinggalkan dan diserahkan untuk dimanfaatkan masyarakat dan Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara. Tenda kesehatan dan tenda pengungsian, peralatan dapur beserta perlengkapannya, mesin genset, lampu penerangan, kendaraan roda tiga serta perlengkapan pendukung lainnya tetap berada diwilayah terdampak.

Dengan demikian, kepulangan personel bukan menjadi akhir dari dukungan. Sebagian sarana yang dibawa dari NTB, tetap tinggal untuk membantu masyarakat melanjutkan masa pemulihan.

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal sebelumnya juga hadir langsung menemui warga ditenda-tenda pengungsian. Pesan yang dibawanya sejak awal sederhana: masyarakat NTT yang terdampak gempa tidak sendiri. NTB datang sebagai saudara, karena pernah merasakan duka yang sama saat gempa Lombok 2018.

Kini, setelah dua pekan bekerja ditengah pengungsian, para relawan harus kembali kepada keluarga yang menunggu di NTB. Namun, misi kemanusiaan tidak berhenti bersama langkah mereka meninggalkan Dampek.

Yang tertinggal bukan hanya tenda, genset, dapur umum, kendaraan dan perlengkapan bantuan. Ada doa agar NTT segera bangkit, ada rasa percaya yang tumbuh dari kebersamaan, dan ada persaudaraan yang lahir ditengah bencana.

NTB datang ketika NTT berduka. Mereka datang membawa pertolongan, bekerja bersama masyarakat, lalu pulang membawa doa. Orang-orangnya kembali ke NTB, tetapi sebagian pertolongannya tetap tinggal ditanah NTT. Jarak kembali terbentang diantara dua pulau, namun doa dan persaudaraan tidak pernah mengenal jarak,”tandasnya.

 

(Orik / 002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *