LCN – Ramadhan bukan sekedar bulan ibadah personal. Ia sebagai madrasah sosial yang mengajarkan empati dalam bentuk paling nyata. Lapar tidak lagi sekedar pengalaman biologis, tetapi jembatan batin untuk memahami kegelisahan mereka yang hidup dalam keterbatasan, Kamis 26/02/2026.
Haus bukan hanya ujian fisik, melainkan pintu masuk untuk merasakan beban masyarakat kecil yang setiap hari bergulat dengan harga kebutuhan pokok dan kesehatan anak-anak mereka.
Dalam suasana inilah Safari Ramadhan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menemukan maknanya. Ia bukan sekedar agenda protokoler, bukan pula seremoni rutin tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan langsung antara pemimpin dan realitas.
Didampingi Ketua TP PKK Provinsi NTB Sinta Agathia serta jajaran perangkat daerah, kunjungan dilakukan bukan diruang rapat berpendingin udara, melainkan dipasar, dijalanan, dan dipuskesmas tempat dimana denyut kehidupan rakyat berdetak tanpa hiasan.
Kunjungan ke Pasar Gerung menjadi gambaran bahwa kebijakan yang presisi lahir dari dialog, bukan asumsi. Ditengah percakapan dengan pedagang dan pembeli, ditemukan fakta sederhana namun penting: harga kebutuhan pokok memang bervariasi antar pedagang. Variasi ini bukan semata gejala kenaikan, tetapi juga menunjukkan adanya pilihan bagi konsumen.
Pesan penting yang menguat: pemerintah tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan gejolak harga tanpa membaca fakta dilapangan secara utuh.
Enumerator diarahkan untuk mencatat harga terendah sebagai acuan. Langkah ini sederhana, tetapi strategis. Ia menunjukkan kehati-hatian dalam mengolah data, agar kebijakan tidak dibangun diatas persepsi yang bias.
Daging sapi masih dalam batas harga acuan. Daging ayam mengalami kenaikan ringan akibat naiknya harga ayam hidup ditingkat pemasok. Pemerintah merespons secara koordinatif, termasuk dengan memastikan rantai distribusi tidak mengalami distorsi. Artinya, pendekatan yang diambil bukan populis dan emosional, melainkan sistematis dan berbasis mekanisme pasar.
Cabai menjadi komoditas yang paling sensitif. Cuaca yang tidak menentu, risiko gagal panen, dan lonjakan permintaan menjelang Ramadhan menjadi faktor utama kenaikan harga. Berbeda dengan beras, minyak dan gula yang termasuk komoditas intervensi pemerintah, cabai sepenuhnya mengikuti hukum supply and demand.
Disini tampak satu prinsip penting yang ditegaskan, negara hadir bukan untuk meniadakan pasar, melainkan untuk menstabilkan ketika gejolak mengancam keterjangkauan masyarakat kecil. Distribusi antar daerah didorong, biaya transportasi difasilitasi dari wilayah surplus ke wilayah defisit.
Pendekatan ini menunjukkan keseimbangan antara teori ekonomi dan keberpihakan sosial.
Namun yang lebih penting dari angka-angka adalah kedekatan emosional yang tercipta. Seorang gubernur berjalan di antara lapak sayur, berbincang tanpa jarak, mendengar keluhan dengan sabar, hal itu membangun kepercayaan. Dan dalam tata kelola pemerintahan, kepercayaan sebagai fondasi yang jauh lebih kuat daripada sekedar regulasi.
Perjalanan berlanjut ke Puskesmas Gerung. Di sana, persoalan bergeser dari harga bapok menuju isu yang lebih mendasar: stunting.
Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Ahda memaparkan perjalanan panjang penanganan stunting. Dari 5.050 kasus (sekitar 9,4 persen), intervensi dilakukan melalui pendekatan medis berbasis desa, melibatkan dokter spesialis anak dan kerja sama dengan IDAI NTB. Dari 1.500 anak yang dipantau, 120 terdeteksi TB dan 400 mengalami anemia.
Kepatuhan konsumsi susu mencapai 80 persen, merupakan tantangan yang muncul dari faktor kebiasaan dan preferensi anak. Namun hasilnya menggembirakan: 80 persen anak menunjukkan kenaikan berat dan tinggi badan.
Pesan penting yang menguat: stunting bukan persoalan yang tak bisa diubah. Dengan intervensi konsisten dan kolaborasi, perubahan nyata dapat terjadi.
Stunting bukan hanya soal kurang makan. Ia adalah persoalan multidimensi: gizi, sanitasi, pola asuh, pendidikan ibu, bahkan faktor genetik. Ketua TP PKK NTB Sinta Agathia menekankan pentingnya pendekatan sosial, budaya, dan agama.
Masih ada sekitar 20 persen pekerjaan rumah yang harus dijaga agar tidak terus berlanjut.
Salah satu pesan paling tegas adalah pencegahan pernikahan usia anak. “Capai sekarang daripada capai di masa depan.” Kalimat ini bukan sekadar imbauan, tetapi peringatan bahwa kualitas generasi ditentukan oleh keputusan hari ini.
Nilai Ramadhan memberi kedalaman pada pesan ini. Dalam perspektif maqashid syariah, menjaga keturunan (hifz al-nasl) adalah tujuan utama. Generasi yang sehat adalah amanah, bukan sekadar statistik pembangunan. Dengan demikian, penanganan stunting bukan hanya agenda kesehatan, tetapi tanggung jawab moral bersama.
Data sebagai Kompas Kebijakan
Dalam dialog dipuskesmas, Gubernur Iqbal menegaskan satu hal mendasar: validasi data. Tanpa data yang akurat, kebijakan hanya menjadi spekulasi. Penyebab stunting harus dipetakan secara presisi, apakah faktor genetik, sanitasi, perumahan, atau asupan gizi.
Pesan penting yang menguat: kebijakan presisi lahir dari data yang jujur dan diverifikasi.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip governance modern sebagai evidence-based policy. Dalam konteks Desa-Desa dengan angka stunting tinggi, pendekatan ini selaras dengan orkestrasi Desa Berdaya, dimana kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan dan kualitas kesehatan anak ditangani secara terpadu.
Intervensi tidak bisa berdiri sendiri. Penurunan kemiskinan tanpa perbaikan gizi tidak akan menyelesaikan stunting. Begitu pula peningkatan gizi tanpa perbaikan sanitasi dan pola asuh akan sia-sia. Karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci: pemerintah daerah, PKK, tenaga medis, kader posyandu dan orang tua bergerak bersama.
Bahkan pengalaman ibu-ibu yang berhasil mengeluarkan anaknya dari stunting didorong untuk dibagikan. Ini menandai pergeseran dari program administratif menjadi gerakan sosial.
Kepemimpinan yang Mendengar
Safari Ramadhan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal instruksi, tetapi soal mendengar. Seorang pemimpin yang hadir langsung memperoleh umpan balik yang tak tergantikan oleh laporan tertulis.
Secara praktis, kunjungan mempercepat respons kebijakan.Secara teoritis, ia memperkuat pendekatan partisipatif.
Secara sosial-agama, ia merefleksikan nilai amanah dan ukhuwah.
Ramadhan mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Dalam konteks ini, turun ke pasar dan puskesmas bukanlah pencitraan, melainkan upaya memahami sebelum memutuskan.
Tulisan dimaksudkan untuk menampilkan sisi kehidupan yang memberi pelajaran: bahwa kebijakan terbaik lahir dari perjumpaan dengan kenyataan; bahwa harga cabai dan tinggi badan anak sama-sama penting; bahwa data dan empati harus berjalan beriringan.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia tentang memastikan bahwa tak ada rakyat yang terlalu lama menahan beban hidup sendirian,”pungkasnya.
(Orik / 002)








