LCN – Lombok Timur, – NTB, Malam puncak Alunan Budaya Desa Pringgasela Raya X dikawasan Tugu Mopra, Sabtu malam (25/07/2026), menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur bukan sekadar pajangan sejarah, melainkan mesin penggerak ekonomi yang sangat ampuh.
Rangkaian acara yang bergulir sejak 18 Juli tersebut tak hanya memukau lewat sajian fashion, seni tari, musik, dan teater. Event tahunan ini terbukti sukses menghidupkan ekosistem pariwisata daerah, mulai dari pergerakan wisatawan, okupansi akomodasi, geliat transportasi, hingga lonjakan omzet UMKM lokal.
Apresiasi tinggi datang dari Kementerian Pariwisata RI melalui Plh. Direktur Poltekpar Lombok, Amirosa Ria Satiadji. Ia menegaskan Alunan Budaya Desa Pringgasela adalah contoh konkret perayaan identitas budaya yang dikemas kreatif dan relevan dengan arus modernisasi.
Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, yang hadir mendampingi Ketua Dekranasda NTB Ny. Hj. Sinta M. Iqbal dan Ketua GOW Ny. Sri Mahyu Wardani Edwin, menegaskan komitmen Pemkab untuk terus mengawal event-event berdampak ekonomi langsung ke masyarakat.
“Setiap event harus punya dampak nyata, terutama ekonomi warga sekitar. Dari 239 desa di Lombok Timur, kami punya potensi besar yang terus didorong agar bisa mengikuti jejak Pringgasela menembus Karisma Event Nusantara (KEN),”ujar Wabup Edwin optimis.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, mewakili Gubernur NTB, menyebut helatan ini sebagai panggung kebanggaan.
Menurutnya, kain tenun Pringgasela bukan cuma lembaran kain, melainkan simbol doa, sejarah, dan harga diri masyarakat NTB yang kini tampil anggun serta mendunia.
Sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi warga Pringgasela, Pemprov NTB berkomitmen memberikan dukungan penuh bagi pengembangan Desa wisata, pelestarian wastra nusantara, serta pemberdayaan UMKM kreatif diwilayah tersebut.
Malam puncak perayaan turut dihadiri jajaran Forkopimda, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Kepala Dinas Pariwisata NTB, pimpinan OPD Lombok Timur, hingga para tokoh agama dan adat setempat,”pungkasnya.
(Orik / 002)







