LCN – Lombok Tengah, – NTB, Didalam ruang belajar Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah, Rabu (20/5) siang itu, suasananya terasa berbeda. Tidak ada kesan kaku atau menegangkan. Yang terdengar justru untaian doa yang dirapalkan dengan khusyuk oleh dua pasang bibir muda.
Hari itu, dinding-dinding LPKA menjadi saksi bisu sebuah momen yang menyentuh hati: dua anak binaan beragama Hindu sedang diajak “pulang” ke akar spiritual mereka.
Lewat sinergi apik antara LPKA Lombok Tengah dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Tengah, kedua anak ini mendapatkan pendampingan keagamaan eksklusif yang dipandu langsung oleh Penyuluh Agama Hindu, I Wayan Bagus Kusuma.
Bukan sekadar formalitas mengisi waktu luang, mereka diajak menyelami kembali esensi dasar iman mereka yang mungkin sempat terlupakan dimasa lalu. Mulai dari merapikan kembali tata cara persembahyangan yang benar, menghafal doa-doa sehari-hari, hingga membedah filosofi mendalam Tri Hita Karana.
Melalui konsep Tri Hita Karana, kedua anak binaan ini diajarkan tiga pilar keharmonisan mutlak:
Hubungan dengan sesama manusia untuk menyembuhkan luka sosial dan belajar memaafkan. Hubungan dengan alam sekitar untuk menumbuhkan rasa peduli.Memenuhi Hak yang Paling Hakiki
Kepala LPKA Lombok Tengah, Hidayat, menegaskan bahwa jeruji besi boleh membatasi ruang gerak fisik, namun tidak boleh memenjarakan hak seseorang untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
“Kegiatan ini adalah komitmen kami dalam memenuhi hak beragama bagi setiap anak binaan tanpa terkecuali. Kami ingin memastikan bahwa ketika mereka melangkah keluar dari sini nanti, mereka tidak hanya membawa selembar surat bebas, tetapi membawa karakter baru yang lebih kokoh dan siap diterima kembali oleh masyarakat,”ujar Hidayat dengan nada optimis.
Kolaborasi hangat antara LPKA dan Kemenag Lombok Tengah ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pemasyarakatan anak saat ini jauh dari kesan menghukum (punitif), melainkan lebih fokus pada pemulihan (restoratif).
Bagi kedua anak binaan tersebut, ruang belajar siang itu bukan lagi sekadar tempat menjalani masa hukuman, melainkan sebuah laboratorium kehidupan, tempat mereka merajut kembali harapan, menebus kesalahan, dan bersiap menyongsong masa depan yang jauh lebih cerah dengan panduan iman didada.
(Orik / 002)







